Blogger Template by Blogcrowds

Showing posts with label Jerman. Show all posts
Showing posts with label Jerman. Show all posts

Kenapa Harus Jerman ??
Hai guys...ada banyak tawaran beasiswa dari berbagai negara yang masuk dan di Promosikan di Indonesia. Dan hampir setiap ada pameran pendidikan luar negeri peminatnya begitu berlimpah di negeri ini. Sebenarnya apa yang menjadi tujuan mereka (negara luar pemberi beasiwa) yang dengan murah hati memberikan beasiswa kepada kita?
Ada beberapa alasan yang cukup masuk akal yakni negara kita dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa merupakan pangsa pasar potensial dan menggiurkan bagi lembaga-lembaga pendidikan luar negeri karena dengan jumlah peduduk yang begitu besar dengan memberikan beasiwa kepada kita bisa mendatangkan devisa yang cukup besar pula bagi mereka (negara penyedia beasiswa). Namun ada juga alasan tersembunyi yang saya dengar dari beberapa teman yang telah mendapatkan beasiswa keluar negeri yakni sebenarnya dana beasiswa yang begitu besar adalah dana yang berasal dari pajak yang seharusnya mereka (negara penyedia beasiswa) setorkan ke Negara kita. Namun karena mereka berpikir bahwa bagaimana agar image negara mereka menjadi bagus di mata orang Indonesia maka mereka menyetorkan pajak tersebut dengan kedok memberikan beasiswa kepada kita yang sebenarnya beasiswa tersebut adalah uang kita sendiri yang berasal dari pajak yang tidak mau mereka bayarkan. Jadi teman-teman (terserah pendapat ini benar atau tidak) tidak ada salah nya bagi kita untuk mencoba mendapatkan beasiswa sekuat tenaga kita karena apapun dana beasiswa itu berasal yang penting kita harus berjuang untuk memperbaiki kualitas hidup bangsa ini melalui peningkatan mutu pendidikan yang dimulai pada diri kita sendiri.
Kembali ke topik semula pada judul diatas, kenapa harus Jerman yang kita tuju sebagai sasaran beasiswa kita?
Jawabannya adalah..selama saya membaca berbagai buku dan artikel tentang beasiswa dan sepanjang yang saya dengar dari teman-teman yang pernah kuliah di luar negeri, baru Jerman lah yang saya dengar menggratiskan biaya kuliah 100% plus anda juga mendapatkan biaya hidup sebsar Rp.11 juta perbulan dan apabila anda membawa keluarga ke Jerman maka kehidupan keluarga anda pun juga ditanggung oleh masyarakat Jerman.
Wah enak banget donk...Yup!! Jerman yang kita ketahui adalah salah satu negara termakmur selain Finlandia, Swiss dan (apalagi ya..wah lupa gue..hehehehe..sorry)maka tak heran mereka mau mengeluarkan biaya begitu besar untuk masing-masing peserta beasiswa. Apa yang mereka dapatan dari pengeluaran sebesar itu? Ya itu tadi devisa dan mereka sekaligus mempromosikan negara mereka dengan cara mereka akan menjaga hubungan baik dengan setiap mahasiswa internasional yang pernah kuliah di Jerman. Dengan harapan nantinya akan banyak wargakita yang ingin melanjutkan kuliah disana.
Apalagi manfaat kuliah di Jerman?? Jerman terletak di benua Eropa tengah sehinga boleh dikatakan negara ini berada di tengah benua eropa sehingga apabila anda kuliah di Jerman anda akan dengan gampang mengunjungi negara-negara di Eropa (karena masuk di antar negara-negara di benua Eropa tidak memerlukan visa) dan anda akan mendapatkan pandangan dan visi yang lebih dalam mengenai pasar atau kebudayaan di Eropa.
Alasan lainnya yakni Jerman terkenal dengan teknologi yang tinggi (ingat Jerman pasti ingat Pak Habibie yang jenius itu kan) sehingga Jerman sebagai tempat yang paling cocok buat kamu-kamu yang ingin belajar teknik. Namun sekarang dengan perkembangan dunia kependidikan di Jerman, ilmu-ilmu sosial, filsafat dan humaniora nya pun juga tak kalah kok dibandingin dengan negara-negara lain.
Alasan selanjutnya (alasan keberapa ya ini) kebanyakan Universitas di Jerman mempunyai jalinan begitu erat dengan perusahaan atau dunia industri. Dengan demikian, bagi mahasiswa ada kesempatan untuk belajar hidup dan bekerjasama dengan manusia lain yang berbeda bahasa, latar budaya dan dalam derajat kulifikasi yang tinggi. Dengan artian anda-anda semua akan berhubungan dan beriteraksi dengan orang-orang pilihan di Negara ini dari ragam dan negara yang berbeda. Bisa jadi tambah cerdas begitu balik ke Indonesia nantinya..tapi inget..balik ke Indonesia ilmu yang didapat juga ditransfer ya..jangan dimakan sendiri..makin sering kita berbagi ilmu dengan yang lain maka akan bertambah ilmu kita sesering kita berbagi dengan orang lain. Piss !!!
Bagi yang ingin mengetahui informasi mengenai beasiswa di Jerman, teman-teman bisa mencari informasi dengan mengklik di :
www.campus-germany/de
www.daad.de/deutschland/en/index.html
www.daad.de/deutschland/en/2.3.1.html
www.auswaertiges-amt.de/www/de/adressen_html
www.goethe.de
www.studeinkolleges.de


Menghitung Biaya Belajar Di Jerman
Seperti di universitas lainnya. Di Jerman lamanya studi juga umumnya delapan semester. Lama studi ini terbagi dalam dua bagian, studi dasar dan studi utama. Pada dua bagian studi ini ada penjelasan teori, praktek semester dan ujian semester. Dan seperti yang sudah-sudah, untuk belajar di perguruan tinggi tidak dipungut bayaran alias gratis.paling-paling keharusan membayar hanya terjadi pada semsterbeitrag dan jumlahnya 134 DM (sekitar Rp.593.000).
Sebagaimana yang dituliskan oleh Tony pada harian Kompas edisi16 Oktober 2001, untuk bisa masuk perguruan tinggi di Jerman, tentu diperlukan ijazah yang di Jerman setara dengan Gymnasium. Ijazah itu akan mengalami pengujian. Bila dalam pengujian ijazah itu seseorang dinilai belum cukup untuk studi di Jerman, maka yang bersangkutan berlu belajar sekitar dua semester (satu tahun) di Studeinkolleg, semacam kelas persiapan (atau di negara kita dikenal dengan istilah martikulasi). Kelulusan dari Studeinkolleg ditentukan oleh ujian kemantapan (Feststellungspr fung).
Pertanyaannya sekaran adalah berapa besar biaya hidup sebulannya di Jerman??? Rata-rata biaya hidup di Jerman sekitar 1.000 DM-1.200 DM (Rp.4,5 juta-Rp.5,4 juta) setiap bulannya untuk satu orang. Uang itu antara lain digunakan untuk membiayai akomodasi sekitar 200 DM perbulan. Bila mahasiswa tinggal di studen hostel, biaya yang dikeluarkan cuma sekitar 180 DM perbulan. Atau bila akan menggunakan private accomodation harus mengeluarkan biaya antara 150-350 DM per bulan.
Untuk keperluan makan diperlukan 350 DM. Sebagai gambaran, biaya makan di Kantin Mahasiswa antara 2,5 DM-3,0 DM. Bila mahasiswa suka makan di restoran tentu akan dikeluarkan biaya yang lebih besar lagi tentunya. Akan tetapi mahasiswa Indonesia pada umumnya dan kebanyakan lebih suka memasak sendiri. Umumnya beras yang digunakan berasal dari Thailand dengan rasa wangi dan enak yang tidak sulit didapatkan di Jerman. Dan tentu saja dengan memasak sendir akan menghemat dan memperkecil biaya makan di Jerman.
Untuk membeli buku, diperlukan sekitar 60 DM per bulan. Meski demikian, umumnya perpustakaan universitas maupun politeknik sudah menyediakan buku-buku yang diperlukan. Keperluan membeli buku ini hanya akan terjadi bila mahasiswa ingin memiliki secara pribadi. Kalaupun buku yang anda perlukan tidak ada diperpustakaan, beritahu petugas, maka petugas perpustakaannya akan mencarikan untuk anda (wah enak banget ya ).
Hal lain yang harus dibayar oleh mahasiswa adalah asuransi kesehatan. Pemerintah Jerman mengharuskan adanya asuransi kesehatan, naik bagi mahasiswa Jerman sendiri maupun mahasiswa asing. Biaya asuransi kesehatan ini sekitar 60 DM-70 DM per bulan. Dengan asuransi ini, segala keperluan kesehatan mahasiswa akan ter-cover seluruhnya.
Selain itu mahasiswa masih diharuskan untuk membayar semacam tunjangan sosial (student’s social fee) sekitar 50 DM per semester. Sedangkan sisanya sekitar 250 DM-350 DM digunakan untuk berbagai keperluan seperti telepon, biaya cadangan, atau untuk bersantai dan jalan-jalan.


Long Road To Germany
Ada beberapa kelebihan yang sangat menonjol dengan pemberian beasiswa oleh pihak swasta atau pemerintah Jerman sendiri yakni beasiswa yang diberikan bukan hanya untuk mahasiswa yang melanjutkan pendidikan tapi juga biaya untuk menghidupi istri dan anak yang dapat dibawa ke Jerman juga. Anda bisa bandingkan dengan beasiswa di negara lainnya !!
Beasiswa yang datang dari Jerman berasal dari lembaga swasta yang cukup terkenal yakni GTZ dan Alexander Von Humdolt Foundation. Sementara beasiswa yang dari Pemerintah Jerman diorganisasikan oleh Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD, Dinas Pertukaran Akademis Jerman). Disamping nilai beasiswa yang lumayan besar (Rp 11. juta per bulan..gila bisa kaya pulang dari Jerman neh), beasiswa Pemerintah Jerman ini pun memiliki kelebihan dalam menjaga hubungan kolegial seusai program belajar. Kelanjutan hubunagn akan terus dijaga dan memungkinkan para ex-mahasiswa atau mantan penerima beasiswa untuk sekali-sekali kembali lagi dan meneliti di Jerman.
Persoalan yang sering muncul adalah dalam membidik beasiswa di Jerman ini adalah sangat kurangnya informasi tentang sederatan tahapan sebelum beasiswa itu sendiri.
Nah Ivanovich Agusta dengan baik hati membocorkan beberapa informasi tentang gambaran tahapan seleksi penerimaan beasiswa di Jerman yang saya dapatkan dari Kompas edisi 5 Maret 2002. Jadi anda yang baca termasuk sedikit orang yang sangat beruntung (bela-belain neh ngetik sampe cape demi rekan-rekan..sebagai balasannya klik-klik deh tuh iklan yang ada di blog ini ya..hehehehe....ga ikhlas neh ??..iklhas kok..asal temen-temen ngeklik aja..tetep)
Kita mulai dari awal ya..sebagai gambaran jika kamu-kamu atau ente-ente pengen dapetin beasiswa di Jerman, kudu siapin deh tu stamina yang kuat, dan kondisi psikis karena terus terang saja jalannya tidak mudah dan sangat panjang serta melelahkan..bagi yang suka menyerah mending ga usah aja deh karena dibutuhkan mental pejuang sampe titik darah penghabisan (wuuiiihhh serem..mau kuliah ato perang neh) juga satu lagi (hampir lupa neh) musti terus menerus menghubungi DAAD dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi(Ditjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional..buat apa??? Nah baca terus ya biar paham.
Patut diinget oleh teman-teman bahwa beaiswa ini selalu ada setiap tahunnya dan batas akhir penerimaan berkas lamaran beasiswa setiap tanggal 15 desember tiap tahunnya. Erkas tersebut mencakup terjemahan bahasa Inggris dari ijazah serta nilai jenjang SLTA dan perguruan tinggi, bukti lulus tes bahasa inggris dan proposal penelitian.
Sertifikat TOEFL menjadi bukti kemampuan berbahasa Inggris. Namun hampur semua tanda kehidupan sehari-hari di Jerman menggunakan bahasa Jerman, sebagaimana di Jepang. Oleh karenanya, skor TOEFL yang diminta cukup tergolong rendah minimal 475 (horeeee.....yang bego-bego dikit bisa neh..tapi jangan senang dulu freennn..kenapa?? baca terus ya). Itupun tidak harusberupa sertifikat Internasional TOEFL atau nstitusional TOEFL tetapi cukup Pre-TOEFL yang bisa diujikan kapan saja oleh lembaga kursus bahasa Inggris dan harganya juga lebih murah (horeeee.....!!! jangan senang dulu...baca terus ntar pasti keder deh kalo dah tau). Sebagai gantinya setiap calon penerima beasiswa wajib mengikuti kursus mampu menggunakan bahasa Jerman secara aktif..ingat aktif bukan pasif ya (tuh kan mangnya gampang apa bahasa Jerman).
Seleksi tahap awal selama dua bulan dilakukan secara tertutup oleh DIKTI dan DAAD. Sejak tahapan ini biasanya sekitar bulan Januari-Februari. Ada baiknya pelemara menanyakanke Kantor DAAD di Jakarta. Karena kalo bukan kita yang menanyakan langsung biasanya berdasarkan pengalaman berita kita lulus tes atau kapan waktu tes tidak akan pernah sampai ke kita walaupun ada pemberitahuan melalui surat atau email namun lama banget sampainya bozz...jadi hubungi terus tuh si DIKTI dan DAAD ya...
Tahapan selanjutnya adalah tes wawancara pada akhir Februari, yang difokuskan kepada proposal penelitian. Begitu pentingnya proposal tersebut, sampai-sampai para Profesor dari Jerman membantu pembuatan proposal dari beberapa pelamar. Wawancara itu sendiri teramat singkat sekitar 15 menit namun sangat menentukan. Disana diperlukan penggambaran proposal penelitian yang tangguh. Salah satu tips neh untuk mendapatkan poin lebih pada wawancara adalah mencantumkan hasil publikasi sebanyak-banyaknya. Para profesor yang menjadi pewawancara dan penilai ini biasanya terkesan oleh publikasi pelamar.
Delapan minggu seduadahnya dikeluarkan surat keterangan bahwa palamar secara prinsip diterima atau ditolak oleh DAAD pusat di Bonn. Begitu diterima, pelamar masuk kepada tahapan kursus bahasa Jerman tingkat dasar (ZD, Zertifikat Deutsch). Kursus ini menjemukan, tetapi harus dilalui dengan sukses, khususnya bagi peserat asal Indonesia. Jika nantinya tidak lulus ZD maka posisi penerimaan beasiswa lagi-lagi dicopot.
Dengan informasi yang minim tidak ada peserta kursus tersebut yang membayangkan begitu beratnya menempuh tahap ini. Kursus diselenggarakan di Goethe Institur Jakarta, sejak pukul 08.00 sampai dengan 12.30. Namun harusdilanjutkan dengan sistem pengenalan sistem perguruan tinggi serta pengetahuan umum tentang Jerman hingga pukul 16.00. Lazimnya peserta kursus melanjutkan diri ke perpustakaan untuk latihan pendengaran atau meminjam buku-buku sederhana berbahasa Jerman.
Sampai di rumah tentu saja masih harus mengerjakan pekerjaan rumah yang bejibun. Materi khusus yang secara normal ditempuh dalam waktu empat semester dipadatkan menjadi hanya satu semester dari Maret sampai September. Dengan sendirinya tidak ada waktu untuk mempelajari seluruhmateri di kelas sehingga di rumahpun peserta wajib secaramandiri melanjutkan pelajarannya. Bagi peserta Indonesia yang kebanyakan terampil berbahasa Inggris, mengunyah bahasa Jerman secara detail dengan cara begini menjadi terlalu merepotkan. Banyak peserta kursus yang turun kemampuan bahasa Inggrisnya gara-gara mempraktekkan struktur bahasa Jerman yang berbeda sekali.
Jadwal kursus yang teramat padat mengakibatkan banyak peserta kursus yang mengalami kelelahan fisik lalu jatuh sakit. Beberapaorang sampai mengalami gejala tifus sementara lainnya sering mengalami gejala influenza.padahal lima hari saja mereka tidak masuk mereka ketinggalan pelajaran sepertiga buku dari keseluruhan tiga buku yang diajarkan.
Selama kursus akan diketahui bahwa calon penerima beasiswa pun harus memiliki tabungan yang cukup dengan jumlah minimal Rp.30 juta. Tunjangan dari Ditjen Dikti hanya sebesar Rp.340.000,- setiap bulannya. Padahal intensitas kursus yang begitu padat mengharuskan pelamar untuk tinggal di Jakarta. Apalagi jika harus menyewa tempat tinggal dengan tempat kursus yang berada di kawasan elite menteng bisa menbuat calon pelamar mengeluarkan duit lebih banyak lagi. Padahal di saat yang sama peserta juga diharuskan membayar sendiri terjemahan dokumen guna pengurusan pasport dan visa yakni sebesar Rp.500.000,- serta juga membayar ratusan ribu juga untuk pengecekan kesehatan. Akhirnya biaya yang sangat mahal nantinya diperlukan untuk memberangkatkan anggota keluarga ke Jerman (bagi yang ingin bawa keluarga) karena DAAD hanya membiayai satu tiket pesawat saja bagi penerima beasiswa. Baru sampai disana (Jerman) biaya keluarga mereka yang tanggung sepenuhnya.



Older Posts Home